Tasmātiha, bhikkhave, evaṁ sikkhitabbaṁ:
Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih demikian:
So you should train like this:
Khotbah tentang Perhatian pada Kematian (1)
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita memandang kematian dalam praktik spiritual. Perhatikan baik-baik berbagai jawaban para bhikkhu dan bagaimana Sang Buddha menilainya, karena hal ini menyentuh inti dari ketekunan dan kesadaran akan singkatnya hidup.
Sang Buddha menanyakan kepada para bhikkhu apakah mereka mengembangkan perhatian pada kematian. Beberapa bhikkhu menjawab dengan berbagai cara, mulai dari mengharapkan hidup satu hari satu malam hingga hanya selama satu tarikan napas. Sang Buddha kemudian menilai bahwa mereka yang berlatih dengan kerangka waktu lebih pendek disebut berdiam dengan tekun dan mengembangkan perhatian pada kematian secara tajam demi hancurnya kekotoran batin, sementara yang lainnya disebut lengah.
Tasmātiha, bhikkhave, evaṁ sikkhitabbaṁ:
Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih demikian:
So you should train like this:
‘appamattā viharissāma, tikkhaṁ maraṇassatiṁ bhāvessāma āsavānaṁ khayāyā’ti.
‘Kami akan berdiam dengan tekun, kami akan dengan tajam mengembangkan perhatian pada kematian demi berakhirnya kekotoran batin.’
‘We will live diligently. We will keenly develop mindfulness of death for the ending of defilements.’
Evañhi vo, bhikkhave, sikkhitabban”ti.
Demikianlah, para bhikkhu, kalian harus berlatih.”
That’s how you should train.”
Navamaṁ.
Kesembilan.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.