an5.78:6.1 Imāni kho, bhikkhave, pañca anāgatabhayāni sampassamānena alameva bhikkhunā appamattena ātāpinā pahitattena viharituṁ appattassa pattiyā anadhigatassa adhigamāya asacchikatassa sacchikiriyāyā”ti.
an5.78:6.2 Aṭṭhamaṁ.
Bahaya-Bahaya Masa Depan (Ke Dua)
Sutta ini mengajak kita untuk merenungkan kondisi-kondisi sulit yang mungkin terjadi di masa depan. Ini bukan tentang menakut-nakuti, melainkan tentang membangkitkan urgensi yang sehat untuk berlatih selagi kita masih memiliki kesempatan dan kemampuan.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha membahas lima bahaya masa depan yang, jika direnungkan, sudah cukup untuk memotivasi seorang bhikkhu agar berlatih dengan tekun. Kelima bahaya tersebut adalah usia tua, penyakit, kelaparan, kekacauan sosial, dan perpecahan dalam Saṅgha. Dengan menyadari bahwa kondisi-kondisi ini dapat menghalangi praktik Dhamma, seorang bhikkhu didorong untuk mencapai realisasi spiritual selagi masih memiliki kesempatan.
an5.78:6.1 Imāni kho, bhikkhave, pañca anāgatabhayāni sampassamānena alameva bhikkhunā appamattena ātāpinā pahitattena viharituṁ appattassa pattiyā anadhigatassa adhigamāya asacchikatassa sacchikiriyāyā”ti.
an5.78:6.2 Aṭṭhamaṁ.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.