an5.78:4.1 Selanjutnya, para bhikkhu, seorang bhikkhu merenungkan demikian:
an5.78:4.2 ‘Saat ini, orang-orang hidup rukun, saling menghargai, tanpa perselisihan, menyatu seperti susu dan air, dan saling memandang dengan mata penuh kasih.
an5.78:4.3 Tetapi akan tiba saatnya bahaya akibat kekacauan di hutan belantara, sehingga penduduk desa menaiki kendaraan mereka dan mengungsi ke mana-mana.
an5.78:4.4 Saat bahaya, orang-orang berpindah ke tempat yang aman,
an5.78:4.5 di mana mereka hidup berdesak-desakan dan berhimpitan.
an5.78:4.6 Ketika hidup berdesak-desakan dan berhimpitan, tidak mudah untuk merenungkan ajaran para Buddha, dan tidak mudah untuk menempati tempat tinggal terpencil di hutan belantara dan rimba.
an5.78:4.7 Sebelum hal yang tidak menyenangkan, tidak diinginkan, dan tidak disukai itu datang,
an5.78:4.8 sebaiknya aku sejak awal membangkitkan kegigihan untuk mencapai yang belum tercapai, meraih yang belum diraih, dan merealisasikan yang belum direalisasikan, agar dengan demikian, ketika hal itu terjadi, aku dapat hidup dengan nyaman bahkan di masa bahaya.’
an5.78:4.9 Ini, para bhikkhu, adalah bahaya masa depan keempat yang dengan melihatnya, seorang bhikkhu sudah sepantasnya berdiam dengan tekun, bersemangat, dan bertekad bulat untuk mencapai yang belum tercapai, meraih yang belum diraih, dan merealisasikan yang belum direalisasikan.
