Kathañca, bhikkhave, bhikkhu niraggaḷo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang tanpa gerendel?
Kebebasan Hati sebagai Buah (Ke Dua)
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana latihan persepsi yang tampak sederhana dapat membongkar akar penderitaan yang paling dalam. Simbolisme seorang prajurit yang menaklukkan benteng digunakan untuk menggambarkan perjuangan batin melawan belenggu-belenggu pikiran, sebuah gambaran yang kuat dan mudah dipahami.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan lima persepsi yang, jika dikembangkan dan dilatih, akan menghasilkan kebebasan hati dan kebebasan melalui kebijaksanaan. Beliau kemudian menguraikan makna dari lima julukan simbolis bagi seorang bhikkhu yang telah mencapai kebebasan sempurna, masing-masing merujuk pada padamnya berbagai belenggu dan kekotoran batin.
Kathañca, bhikkhave, bhikkhu niraggaḷo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang tanpa gerendel?
Idha, bhikkhave, bhikkhuno pañcorambhāgiyāni saṁyojanāni pahīnāni honti ucchinnamūlāni tālāvatthukatāni anabhāvaṅkatāni āyatiṁ anuppādadhammāni.
Di sini, para bhikkhu, lima belenggu yang lebih rendah dari seorang bhikkhu telah ditinggalkan, terpotong hingga ke akarnya, seperti pohon palem yang dicabut, dimusnahkan sehingga tidak akan muncul lagi di masa depan.
Evaṁ kho, bhikkhave, bhikkhu niraggaḷo hoti.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjadi tanpa belenggu.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.