Sa kho so, bhikkhave, ariyasāvako iti paṭisañcikkhati:
Kemudian, para bhikkhu, siswa mulia itu merenungkan demikian:
Then that noble disciple reflects:
Sutta tentang Hal-Hal yang Perlu Direnungkan Secara Teratur
Sutta ini mengajak kita untuk merenungkan hal-hal yang seringkali kita hindari: usia tua, sakit, kematian, perpisahan, dan tanggung jawab atas perbuatan sendiri. Alih-alih membuat kita takut, perenungan ini justru dimaksudkan sebagai alat untuk melonggarkan cengkeraman keangkuhan dan kemelekatan, membuka ruang bagi kebijaksanaan dan kehidupan yang lebih otentik.
Sutta ini berisi ajaran Buddha tentang lima hal yang sebaiknya sering direnungkan oleh setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki, baik yang berumah tangga maupun yang telah meninggalkan keduniawian. Kelima hal tersebut adalah: renta terhadap penuaan, renta terhadap penyakit, renta terhadap kematian, harus berpisah dari yang dicintai, dan menjadi pewaris perbuatan sendiri. Buddha menjelaskan manfaat dari setiap perenungan ini, terutama untuk meredakan keangkuhan dan nafsu yang dapat menyebabkan perbuatan buruk, serta bagaimana perenungan ini dapat menuntun pada munculnya jalan menuju kebebasan dari belenggu dan kecenderungan tersembunyi.
Sa kho so, bhikkhave, ariyasāvako iti paṭisañcikkhati:
Kemudian, para bhikkhu, siswa mulia itu merenungkan demikian:
Then that noble disciple reflects:
‘na kho ahaññeveko jarādhammo jaraṁ anatīto, atha kho yāvatā sattānaṁ āgati gati cuti upapatti sabbe sattā jarādhammā jaraṁ anatītā’ti.
‘Bukan hanya aku sendiri yang tunduk pada penuaan dan belum melampaui penuaan. Sesungguhnya, semua makhluk, sebanyak apa pun mereka, yang datang dan pergi, meninggal dunia dan terlahir kembali, semuanya tunduk pada penuaan dan belum melampaui penuaan.’
‘It’s not just me who is liable to grow old, not being exempt from old age. For all sentient beings grow old according to their nature, as long as they come and go, pass away and are reborn.’
Tassa taṁ ṭhānaṁ abhiṇhaṁ paccavekkhato maggo sañjāyati.
Ketika ia sering merenungkan hal ini, jalan pun muncul dalam dirinya.
When they review this subject often, the path is born in them.
So taṁ maggaṁ āsevati bhāveti bahulīkaroti.
Ia melatih, mengembangkan, dan memperbanyak jalan itu.
They cultivate, develop, and make much of it.
Tassa taṁ maggaṁ āsevato bhāvayato bahulīkaroto saṁyojanāni sabbaso pahīyanti anusayā byantīhonti.
Dengan melatih, mengembangkan, dan memperbanyak jalan itu, belenggu-belenggu lenyap sepenuhnya dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi menjadi padam.
By doing so, they give up the fetters and eliminate the underlying tendencies.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.