Tesaṁ kāmoghavūḷhānaṁ,
Mereka yang terbawa banjir kenikmatan indria,
Those swept away by the flood of sensual pleasures,
Sutta Ibu dan Anak
Sutta ini menyajikan sebuah kisah yang jujur tentang kerentanan manusia dan bahaya yang mengintai dalam hubungan dekat. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha merespons peristiwa ini dan merenungkan nasihat-Nya yang tegas namun penuh belas kasih.
Sutta ini mengisahkan seorang ibu dan anaknya yang sama-sama menjadi bhikkhu dan bhikkhunī, tetapi karena sering bertemu, mereka menjadi akrab dan intim hingga akhirnya jatuh dalam hubungan seksual. Sang Buddha menegaskan bahaya nafsu terhadap lawan jenis, terutama melalui gambaran tentang betapa kuatnya daya tarik seorang wanita yang dapat menguasai pikiran pria. Beliau menekankan pentingnya memahami dan melampaui kenikmatan indria untuk mencapai kebebasan sejati.
Tesaṁ kāmoghavūḷhānaṁ,
Mereka yang terbawa banjir kenikmatan indria,
Those swept away by the flood of sensual pleasures,
kāme aparijānataṁ;
tanpa memahami hakikatnya,
not comprehending them,
Kālaṁ gati bhavābhavaṁ,
terombang-ambing oleh waktu dan tujuan, serta kelahiran demi kelahiran—
are governed by transmigration—
saṁsārasmiṁ purakkhatā.
terus berputar dalam saṃsāra.
time and destination, and life after life.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.