Tena kho pana samayena mallikā devī kālaṅkatā hoti.
Pada saat itu, Ratu Mallikā telah meninggal dunia.
Khotbah tentang Raja Kosala
Dalam sutta ini, kita menyaksikan momen duka yang sangat manusiawi. Sang Buddha tidak menampik kesedihan Raja Pasenadi, tetapi mengarahkannya pada pemahaman yang lebih dalam tentang hukum alam dan kamma. Mari kita simak bagaimana Beliau menghibur raja dengan kebijaksanaan yang abadi.
Raja Pasenadi dari Kosala berduka atas meninggalnya Ratu Mallikā. Sang Buddha menghiburnya dengan mengajarkan bahwa ada lima hal yang tidak dapat diperoleh oleh siapa pun di dunia ini: tidak menjadi tua bagi yang rentan tua, tidak sakit bagi yang rentan sakit, tidak mati bagi yang rentan mati, tidak hancur bagi yang rentan hancur, dan tidak lenyap bagi yang rentan lenyap. Beliau menekankan bahwa ratapan dan tangisan tidak membawa manfaat, dan bahwa perbuatan (kamma) memiliki kekuatan yang tak dapat dielakkan.
Tena kho pana samayena mallikā devī kālaṅkatā hoti.
Pada saat itu, Ratu Mallikā telah meninggal dunia.
Atha kho aññataro puriso yena rājā pasenadi kosalo tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā rañño pasenadissa kosalassa upakaṇṇake āroceti:
Kemudian seorang pria mendatangi Raja Pasenadi dari Kosala dan membisikkan ke telinganya:
Then a man went up to the king and whispered in his ear,
“mallikā devī, deva, kālaṅkatā”ti.
“Baginda, Ratu Mallikā telah meninggal dunia.”
“Your Majesty, Queen Mallikā has passed away.”
Evaṁ vutte, rājā pasenadi kosalo dukkhī dummano pattakkhandho adhomukho pajjhāyanto appaṭibhāno nisīdi.
Ketika mendengar hal itu, Raja Pasenadi merasa sedih dan berduka. Ia duduk dengan bahu terkulai, wajah tertunduk, termenung, dan tidak mampu berkata-kata.
When this was said, King Pasenadi was miserable and sad. He sat with his shoulders drooping, downcast, depressed, with nothing to say.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.