‹
AN 5.230

Dutiyakaṇhasappasutta

Khotbah tentang Ular Hitam (Ke-2)

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 5.230

Kenali dunia dalam sutta ini

Dalam sutta ini, Sang Buddha menggunakan perumpamaan ular hitam untuk menggambarkan bahaya-bahaya tertentu. Mari kita simak bagaimana beliau merinci lima bahaya tersebut dan apa maknanya ketika diterapkan pada manusia.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Dalam khotbah ini, Sang Buddha menyampaikan kepada para bhikkhu tentang lima bahaya yang terdapat pada seekor ular hitam, yaitu pemarah, pendendam, berbisa mematikan, berlidah bercabang, dan berkhianat. Beliau kemudian menganalogikan lima bahaya tersebut dengan seorang perempuan, dengan penjelasan lebih lanjut mengenai sifat berbisa, lidah bercabang, dan pengkhianatan yang dihubungkan dengan nafsu kuat, suka memfitnah, dan berselingkuh.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an5.230:1.1

“Pañcime, bhikkhave, ādīnavā kaṇhasappe.

“Para bhikkhu, ada lima bahaya pada seekor ular hitam.

“Mendicants, there are these five drawbacks of a black cobra.

an5.230:1.3

Kodhano, upanāhī, ghoraviso, dujjivho, mittadubbhī.

Ia pemarah, pendendam, berbisa mematikan, berlidah bercabang, dan berkhianat.

It’s irritable, acrimonious, venomous, fork-tongued, and treacherous.

an5.230:1.4

Ime kho, bhikkhave, pañca ādīnavā kaṇhasappe.

Inilah, para bhikkhu, lima bahaya pada seekor ular hitam.

These are the five dangers of a black cobra.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.