“Pañcime, bhikkhave, ādīnavā kaṇhasappe.
“Para bhikkhu, ada lima bahaya pada seekor ular hitam.
“Mendicants, there are these five drawbacks of a black cobra.
Khotbah tentang Ular Hitam (1)
Sutta ini sangat singkat namun padat. Saat membacanya, perhatikan bagaimana Sang Buddha menggunakan perumpamaan ular hitam untuk menyampaikan pesan tentang bahaya keterikatan pada bentuk fisik dan sifat-sifat negatif. Renungkan bagaimana analogi ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam khotbah singkat ini, Sang Buddha menyampaikan kepada para bhikkhu bahwa ada lima bahaya pada seekor ular hitam: kotor, berbau busuk, penakut, menakutkan, dan berkhianat. Ia kemudian menganalogikan kelima bahaya tersebut dengan seorang perempuan, yang juga memiliki lima bahaya yang sama. Khotbah ini menekankan perbandingan antara sifat-sifat ular hitam dan perempuan dalam konteks peringatan bagi para bhikkhu.
“Pañcime, bhikkhave, ādīnavā kaṇhasappe.
“Para bhikkhu, ada lima bahaya pada seekor ular hitam.
“Mendicants, there are these five drawbacks of a black cobra.
Katame pañca?
Apakah lima itu?
What five?
Asuci, duggandho, sabhīru, sappaṭibhayo, mittadubbhī.
Ia kotor, berbau busuk, penakut, menakutkan, dan berkhianat.
It’s filthy, stinking, cowardly, frightening, and treacherous.
Ime kho, bhikkhave, pañca ādīnavā kaṇhasappe.
Ini, para bhikkhu, adalah lima bahaya pada seekor ular hitam.
These are the five dangers of a black cobra.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.