Kathañca, bhikkhave, bhikkhu akkhamo hoti gandhānaṁ?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak tahan terhadap bau-bauan?
And how is it that a mendicant can’t endure smells?
Sutta tentang Tidak Tahan
Sutta ini mengajak kita merenungkan ketangguhan batin melalui perumpamaan yang hidup. Mari kita simak bagaimana Buddha membandingkan seorang petapa dengan gajah perang kerajaan, dan apa artinya 'tahan' terhadap godaan indra dalam kehidupan sehari-hari.
Sutta ini menggunakan perumpamaan gajah perang kerajaan untuk menggambarkan kualitas seorang bhikkhu. Sama seperti gajah yang tidak tahan terhadap rangsangan indra di medan perang tidak layak bagi raja, seorang bhikkhu yang tergoda oleh bentuk, suara, bau, rasa, dan sentuhan tidak layak menerima penghormatan dan persembahan. Sebaliknya, mereka yang mampu menahan gejolak indra adalah ladang jasa yang tiada taranya bagi dunia.
Kathañca, bhikkhave, bhikkhu akkhamo hoti gandhānaṁ?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak tahan terhadap bau-bauan?
And how is it that a mendicant can’t endure smells?
Idha, bhikkhave, bhikkhu ghānena gandhaṁ ghāyitvā rajanīye gandhe sārajjati, na sakkoti cittaṁ samādahituṁ.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu setelah mencium suatu bau dengan hidung, tergoda oleh bau yang menarik, tidak mampu menenangkan pikiran.
It’s when a mendicant, smelling an odor with their nose, is aroused by a desirable smell, so is not able to still the mind.
Evaṁ kho, bhikkhave, bhikkhu akkhamo hoti gandhānaṁ.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak tahan terhadap bau-bauan.
That’s how a mendicant can’t endure smells.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.