Kathañca, bhikkhave, dakkhiṇā dāyakato visujjhati, no paṭiggāhakato?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, persembahan dimurnikan oleh pihak pemberi, bukan oleh pihak penerima?
And how is a religious donation purified by the giver, not the recipient?
Khotbah tentang Persembahan
Sutta ini mengajak kita merenungkan praktik memberi dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha memetakan empat kondisi yang menentukan kemurnian sebuah persembahan.
Dalam khotbah singkat ini, Sang Buddha menjelaskan empat cara pemurnian persembahan keagamaan (dakkhiṇa) berdasarkan moralitas pemberi dan penerima. Ajaran ini menekankan bahwa kemurnian persembahan tidak hanya ditentukan oleh satu pihak, melainkan oleh kualitas moral kedua belah pihak. Sutta ini memberikan panduan praktis bagi umat dalam memberi dana dengan bijaksana.
Kathañca, bhikkhave, dakkhiṇā dāyakato visujjhati, no paṭiggāhakato?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, persembahan dimurnikan oleh pihak pemberi, bukan oleh pihak penerima?
And how is a religious donation purified by the giver, not the recipient?
Idha, bhikkhave, dāyako hoti sīlavā kalyāṇadhammo; paṭiggāhakā honti dussīlā pāpadhammā.
Di sini, para bhikkhu, pemberi bermoral, berkarakter baik; sedangkan penerima tidak bermoral, berkarakter buruk.
It’s when the giver is ethical, of good character, but the recipient is unethical, of bad character.
Evaṁ kho, bhikkhave, dakkhiṇā dāyakato visujjhati, no paṭiggāhakato.
Demikianlah, para bhikkhu, persembahan dimurnikan oleh pihak pemberi, bukan oleh pihak penerima.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.