Kodhamakkhagaru bhikkhu,
Seorang bhikkhu yang mengutamakan kemarahan dan penghinaan,
A mendicant who values anger and denigration,
Mengutamakan Kemarahan (Ke-2)
Sutta ini mengajak kita merenungkan prioritas dalam praktik spiritual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha membedakan antara sikap yang menghambat pertumbuhan batin dan sikap yang menyuburkannya.
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang empat hal yang bertentangan dengan Dhamma sejati dan empat hal yang merupakan Dhamma sejati. Beliau menekankan pentingnya mengutamakan Dhamma daripada kemarahan, penghinaan, perolehan materi, dan penghormatan, dengan menggunakan perumpamaan benih busuk dan tumbuhan obat untuk menggambarkan akibat dari sikap tersebut.
Kodhamakkhagaru bhikkhu,
Seorang bhikkhu yang mengutamakan kemarahan dan penghinaan,
A mendicant who values anger and denigration,
lābhasakkāragāravo;
perolehan dan penghormatan,
possessions and honor,
Sukhette pūtibījaṁva,
tidak tumbuh dalam Dhamma sejati,
doesn’t grow in the true teaching,
saddhamme na virūhati.
bagaikan benih busuk di ladang subur.
like a rotten seed in a good field.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.