an4.36:5.1 Yena devūpapatyassa,
an4.36:5.2 gandhabbo vā vihaṅgamo;
an4.36:5.3 Yakkhattaṁ yena gaccheyyaṁ,
an4.36:5.4 manussattañca abbaje;
an4.36:5.5 Te mayhaṁ āsavā khīṇā,
an4.36:5.6 viddhastā vinaḷīkatā.
Khotbah tentang Doṇa
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna pencerahan: bukan sekadar status makhluk, melainkan kebebasan dari segala kemelekatan. Mari kita simak dialog sederhana namun dalam antara seorang brahmana dan seorang yang telah melampaui dunia.
Dalam perjalanan antara Ukkaṭṭhā dan Setabyā, brahmana Doṇa melihat jejak kaki Buddha yang berciri roda seribu jari-jari. Ia mengikuti jejak itu dan menemukan Buddha sedang duduk di bawah pohon. Doṇa bertanya apakah Buddha adalah dewa, gandhabba, yakkha, atau manusia; Buddha menjawab bukan salah satunya, karena noda-noda batin yang menyebabkan kelahiran kembali dalam bentuk-bentuk itu telah dihancurkan. Ia menyatakan diri sebagai Buddha, bagaikan teratai yang tumbuh di air namun tidak dilekati air.
an4.36:5.1 Yena devūpapatyassa,
an4.36:5.2 gandhabbo vā vihaṅgamo;
an4.36:5.3 Yakkhattaṁ yena gaccheyyaṁ,
an4.36:5.4 manussattañca abbaje;
an4.36:5.5 Te mayhaṁ āsavā khīṇā,
an4.36:5.6 viddhastā vinaḷīkatā.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.