Sabbakammavihāyīnaṁ,
Siapakah yang dapat menghalangi sang penyingkir,
Who can hold back the dispeller,
Kebiasaan Mulia
Sutta ini mengajak kita merenungkan standar kecukupan dan kepuasan dalam kehidupan praktis seorang bhikkhu. Perhatikan bagaimana penekanan diberikan bukan hanya pada sikap puas, tetapi juga pada kewaspadaan dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Sutta ini membahas empat kebiasaan mulia (ariyavaṁsa) yang dianggap primordial dan tidak ternoda: merasa puas dengan jubah apa pun, makanan apa pun, tempat tinggal apa pun, serta bersenang dalam pengembangan batin dan pelepasan. Seorang bhikkhu yang memiliki empat kebiasaan ini tidak meninggikan diri atau merendahkan orang lain, dan mampu mengatasi ketidakpuasan di mana pun ia berdiam. Sutta ditutup dengan syair yang menegaskan keunggulan orang bijaksana yang telah melepaskan segala perbuatan.
Sabbakammavihāyīnaṁ,
Siapakah yang dapat menghalangi sang penyingkir,
Who can hold back the dispeller,
panuṇṇaṁ ko nivāraye;
yang telah melepaskan segala perbuatan?
who’s cast aside all deeds?
Nekkhaṁ jambonadasseva,
Bagaikan perhiasan emas dari sungai Jambu,
Like a pendant of Black Plum River gold,
ko taṁ ninditumarahati;
siapakah yang layak mencelanya?
who is worthy to criticize them?
Devāpi naṁ pasaṁsanti,
Bahkan para dewa memujinya,
Even the gods praise them,
brahmunāpi pasaṁsito”ti.
dan oleh Brahma pun ia dipuji.”
and by the Divinity, too, they’re praised.”
Aṭṭhamaṁ.
Ini adalah sutta kedelapan.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.