an4.24:8.1 Yaṁ kiñci diṭṭhaṁva sutaṁ mutaṁ vā,
an4.24:8.2 Ajjhositaṁ saccamutaṁ paresaṁ;
an4.24:8.3 Na tesu tādī sayasaṁvutesu,
an4.24:8.4 Saccaṁ musā vāpi paraṁ daheyya.
Khotbah di Vihara Kāḷaka
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajak kita merenungkan bagaimana pengetahuan dan pengalaman sehari-hari bisa menjadi sumber keterikatan. Mari kita simak bagaimana ia menggambarkan sikap seorang Tathāgata yang melihat, mendengar, dan mengetahui tanpa terjebak dalam anggapan-anggapan.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa seorang Tathāgata mengetahui segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, dan disadari oleh makhluk-makhluk di dunia, namun ia tidak terikat pada hal-hal tersebut. Ia tidak menganggap dirinya sebagai penglihat, pendengar, perasa, atau penyadar, dan tidak menggenggam apa pun sebagai kebenaran mutlak. Melalui syair penutup, Sang Buddha menegaskan bahwa para Tathāgata bebas dari segala keterikatan dan prasangka.
an4.24:8.1 Yaṁ kiñci diṭṭhaṁva sutaṁ mutaṁ vā,
an4.24:8.2 Ajjhositaṁ saccamutaṁ paresaṁ;
an4.24:8.3 Na tesu tādī sayasaṁvutesu,
an4.24:8.4 Saccaṁ musā vāpi paraṁ daheyya.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.