Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
KENALI DUNIA AN 4.22
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna kedewasaan dan kebijaksanaan. Mari kita simak bagaimana Buddha menjawab kritik para brahmana tua dengan sebuah definisi yang mengejutkan tentang apa artinya menjadi sesepuh sejati.
Buddha menceritakan pengalaman-Nya di Uruvelā setelah pencerahan, ketika sekelompok brahmana tua menegur-Nya karena dianggap tidak menghormati para sesepuh. Buddha kemudian menjelaskan bahwa status sesepuh tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh empat kualitas: moralitas, pembelajaran, penguasaan jhāna, dan pencapaian kebebasan batin melalui hancurnya kekotoran.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an4.22:1.1 “Mendicants, this one time, when I was first awakened, I was staying in Uruvelā at the goatherd’s banyan tree on the bank of the Nerañjarā River.
an4.22:1.2 Then several old brahmins—elderly and senior, who were advanced in years and had reached the final stage of life—came up to me, and exchanged greetings with me.
an4.22:1.3 When the greetings and polite conversation were over, they sat down to one side, and said to me:
an4.22:1.5 “The ascetic Gotama does not bow to old brahmins, elderly and senior, who are advanced in years and have reached the final stage of life; nor does he rise in their presence or offer them a seat.”
an4.22:1.7 for the worthy Gotama does not bow to old brahmins, elderly and senior, who are advanced in years and have reached the final stage of life; nor does he rise in their presence or offer them a seat.
an4.22:1.8 This is not appropriate, worthy Gotama.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
AN 4.22 · Khotbah di Uruvelā (ke-2) | Tiga Keranjang