Idamavoca, bhikkhave, brahmā sahampati.
Demikianlah yang dikatakan, para bhikkhu, oleh Brahmā Sahampati.
That is what the divinity Sahampati said.
Khotbah Pertama di Uruvelā
Khotbah ini mengajak kita merenungkan tentang sikap hormat dalam praktik spiritual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha sendiri, sebagai sosok yang telah mencapai kesempurnaan, mencari dan menemukan objek penghormatan yang tepat.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menceritakan kembali pengalaman-Nya sesaat setelah mencapai pencerahan sempurna di Uruvelā. Ia merenungkan bahwa hidup tanpa rasa hormat adalah penderitaan, tetapi setelah mencari ke seluruh alam, Ia tidak menemukan siapa pun yang lebih sempurna dari diri-Nya sendiri dalam hal moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, dan kebebasan. Akhirnya, atas dorongan Brahmā Sahampati, Sang Buddha memutuskan untuk menghormati, menghargai, dan bersandar pada Dhamma yang telah Ia sempurnakan, dan juga memberikan penghormatan kepada Saṅgha yang telah mencapai keagungan.
Idamavoca, bhikkhave, brahmā sahampati.
Demikianlah yang dikatakan, para bhikkhu, oleh Brahmā Sahampati.
That is what the divinity Sahampati said.
Idaṁ vatvā maṁ abhivādetvā padakkhiṇaṁ katvā tatthevantaradhāyi.
Setelah mengucapkan itu, ia memberi hormat kepadaku, berjalan mengelilingiku searah jarum jam, lalu lenyap di tempat itu juga.
Then he bowed and respectfully circled me, keeping me on his right side, before vanishing right there.
Atha khvāhaṁ, bhikkhave, brahmuno ca ajjhesanaṁ viditvā attano ca patirūpaṁ yvāyaṁ dhammo mayā abhisambuddho tameva dhammaṁ sakkatvā garuṁ katvā upanissāya vihāsiṁ.
Kemudian, para bhikkhu, setelah mengetahui permintaan Brahmā dan apa yang layak bagi diriku, aku menghormati, menjunjung tinggi, dan berdiam dengan bersandar pada Dhamma yang telah kusempurnakan itu.
Then, knowing the request of the Divinity and what was suitable for myself, I honored and respected and relied on the same teaching to which I was awakened.
Yato ca kho, bhikkhave, saṅghopi mahattena samannāgato, atha me saṅghepi gāravo”ti.
Dan karena Saṅgha juga telah mencapai keagungan, maka aku pun memiliki rasa hormat kepada Saṅgha.”
And since the Saṅgha has also achieved greatness, I also respect the Saṅgha.”
Paṭhamaṁ.
Pertama.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.