Katamo ca, bhikkhave, sappuriso?
“Dan apakah, para bhikkhu, orang yang baik itu?
And what is a true person?
Sutta tentang Jalan dengan Sepuluh Faktor
Sutta ini mengajak kita merenungkan kualitas diri sendiri dan pengaruh kita terhadap orang lain. Perhatikan bagaimana Sang Buddha menyusun ajaran ini secara berjenjang, dari yang negatif hingga yang paling positif.
Dalam sutta ini, Sang Buddha membedakan empat jenis manusia berdasarkan kualitas moral dan spiritual mereka: orang yang tidak baik, orang yang lebih tidak baik, orang baik, dan orang yang lebih baik. Pembedaannya terletak pada sepuluh faktor, mulai dari pandangan hingga kebebasan, serta apakah seseorang juga mendorong orang lain untuk memiliki kualitas yang sama.
Katamo ca, bhikkhave, sappuriso?
“Dan apakah, para bhikkhu, orang yang baik itu?
And what is a true person?
Idha, bhikkhave, ekacco sammādiṭṭhiko hoti …pe… sammāñāṇī hoti, sammāvimutti hoti.
Di sini, para bhikkhu, seseorang memiliki pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar, pengetahuan benar, dan kebebasan benar.
It’s someone who has right view, right purpose, right speech, right action, right livelihood, right effort, right mindfulness, right immersion, right knowledge, and right freedom.
Ayaṁ vuccati, bhikkhave, sappuriso.
Ini, para bhikkhu, disebut orang yang baik.”
This is called a true person.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.