Ekaṁ samayaṁ bhagavā rājagahe viharati gijjhakūṭe pabbate.
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Puncak Gunung Vulture.
Once the Buddha was staying near Rājagaha, on the Vulture’s Peak Mountain.
Khotbah tentang Upaka
Sutta ini memperlihatkan sebuah dialog yang tajam antara Buddha dan seorang pengkritik. Perhatikan bagaimana Buddha dengan cermat membalikkan argumen Upaka, lalu gunakan momen itu untuk memperkenalkan kerangka ajarannya tentang keterampilan dan ketidak-terampilan.
Upaka, putra Maṇḍikā, mendatangi Buddha dan menyatakan pandangannya bahwa siapa pun yang mengeluh tentang orang lain tanpa memberikan alasan adalah tercela. Buddha menunjukkan bahwa Upaka sendiri melakukan hal itu, sehingga ia terjebak dalam perkataannya sendiri. Buddha kemudian menjelaskan ajarannya tentang yang tidak terampil dan yang terampil, yang masing-masing harus ditinggalkan dan dikembangkan, dengan penjelasan yang tak terbatas. Setelah itu, Upaka melaporkan percakapan ini kepada Raja Ajātasattu, yang justru marah dan mengusirnya karena dianggap lancang menyerang Buddha.
Ekaṁ samayaṁ bhagavā rājagahe viharati gijjhakūṭe pabbate.
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Puncak Gunung Vulture.
Once the Buddha was staying near Rājagaha, on the Vulture’s Peak Mountain.
Atha kho upako maṇḍikāputto yena bhagavā tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā bhagavantaṁ abhivādetvā ekamantaṁ nisīdi. Ekamantaṁ nisinno kho upako maṇḍikāputto bhagavantaṁ etadavoca:
Kemudian Upaka putra Maṇḍikā mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
Then Upaka the son of Maṇḍikā went up to the Buddha, bowed, sat down to one side, and said to him:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.