an4.16:2.1 Rūpasokhummataṁ ñatvā,
an4.16:2.2 vedanānañca sambhavaṁ;
an4.16:2.3 Saññā yato samudeti,
an4.16:2.4 atthaṁ gacchati yattha ca;
an4.16:2.5 Saṅkhāre parato ñatvā,
an4.16:2.6 dukkhato no ca attato.
Kehalusan
Sutta ini mengajak kita merenungkan betapa halusnya pengalaman batin dan jasmani. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menguraikan empat aspek kehalusan ini dan apa artinya bagi praktik spiritual.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan empat macam kehalusan (sokhumma) yang harus dipahami oleh seorang bhikkhu: kehalusan bentuk, perasaan, persepsi, dan bentukan-bentukan kehendak. Seorang bhikkhu yang mencapai kehalusan tertinggi dalam masing-masing aspek ini tidak melihat atau menginginkan yang lebih unggul lagi. Syair penutup menegaskan bahwa dengan memahami asal-mula dan akhir dari fenomena-fenomena ini, serta melihat bentukan-bentukan sebagai asing, penderitaan, dan bukan diri, ia mencapai kedamaian dan menaklukkan Māra.
an4.16:2.1 Rūpasokhummataṁ ñatvā,
an4.16:2.2 vedanānañca sambhavaṁ;
an4.16:2.3 Saññā yato samudeti,
an4.16:2.4 atthaṁ gacchati yattha ca;
an4.16:2.5 Saṅkhāre parato ñatvā,
an4.16:2.6 dukkhato no ca attato.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.