Kathañca, bhikkhave, puggalo anavajjo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang individu tidak tercela?
And how is an individual blameless?
Sutta tentang Yang Tercela
Sutta ini mengajak kita untuk merenungkan kualitas perbuatan kita sendiri melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha mengelompokkan empat jenis individu ini sebagai cermin untuk memahami diri sendiri.
Dalam sutta ini, Sang Buddha membahas empat jenis individu yang ditemukan di dunia berdasarkan kualitas perbuatan mereka melalui tubuh, ucapan, dan pikiran: yang tercela, yang banyak tercela, yang sedikit tercela, dan yang tidak tercela. Pembagian ini didasarkan pada apakah perbuatan-perbuatan tersebut tercela (sāvajja) atau tidak tercela (anavajja).
Kathañca, bhikkhave, puggalo anavajjo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang individu tidak tercela?
And how is an individual blameless?
Idha, bhikkhave, ekacco puggalo anavajjena kāyakammena samannāgato hoti, anavajjena vacīkammena samannāgato hoti, anavajjena manokammena samannāgato hoti.
Para bhikkhu, di sini seseorang memiliki perbuatan melalui tubuh yang tanpa cela, memiliki perbuatan melalui ucapan yang tanpa cela, dan memiliki perbuatan melalui pikiran yang tanpa cela.
It’s when an individual does things by way of body, speech, and mind that are blameless.
Evaṁ kho, bhikkhave, puggalo anavajjo hoti.
Demikianlah, para bhikkhu, seseorang disebut tanpa cela.
That’s how an individual is blameless.
Ime kho, bhikkhave, cattāro puggalā santo saṁvijjamānā lokasmin”ti.
Para bhikkhu, keempat jenis orang ini terdapat dan dijumpai di dunia ini.”
These are the four individuals found in the world.”
Pañcamaṁ.
Yang kelima.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.