Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
KENALI DUNIA AN 4.123
Kenali dunia dalam sutta ini
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajak kita merenungkan bagaimana pencapaian meditasi yang mendalam sekalipun bisa menjadi jalan menuju kebebasan atau justru jerat, tergantung pada kebijaksanaan dan pemahaman kita.
Sang Buddha membabarkan empat jenis individu berdasarkan pencapaian jhāna pertama hingga keempat. Mereka yang menikmati dan melekat pada pencapaian tersebut akan terlahir kembali di alam brahmā yang sesuai, namun setelah umur kehidupan di sana habis, seorang duniawi akan jatuh ke alam rendah, sedangkan siswa mulia yang terpelajar mencapai parinibbāna dalam kehidupan itu juga.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Puna caparaṁ, bhikkhave, idhekacco puggalo pītiyā ca virāgā upekkhako ca viharati sato ca sampajāno sukhañca kāyena paṭisaṁvedeti yaṁ taṁ ariyā ācikkhanti: ‘upekkhako satimā sukhavihārī’ti tatiyaṁ jhānaṁ upasampajja viharati.
Lebih jauh lagi, para bhikkhu, di sini seseorang, dengan meluruhnya sukacita, berdiam dengan keseimbangan, dengan perhatian dan pemahaman jernih, dan merasakan kebahagiaan dengan tubuh, yang oleh para mulia dikatakan: ‘Seimbang, penuh perhatian, berdiam dalam kebahagiaan’, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ketiga.
Furthermore, take an individual who, with the fading away of rapture, enters and remains in the third absorption, where they meditate with equanimity, mindful and aware, experiencing for themselves the bliss of which the noble ones declare, ‘Equanimous and mindful, one meditates in bliss.’
Berdiam dalam kondisi itu, berkomitmen padanya, dan sering bermeditasi padanya tanpa kehilangannya, ketika meninggal dunia ia terlahir kembali di tengah-tengah para dewa berkilauan keindahan.
If they abide in that, are committed to it, and meditate on it often without losing it, when they die they’re reborn in the company of the gods of universal beauty.
Di sana, seorang duniawi yang telah berdiam selama umur kehidupannya, setelah menghabiskan seluruh umur kehidupan para dewa itu, ia pergi ke neraka, atau ke alam binatang, atau ke alam setan.
An ordinary person stays there until the lifespan of those gods is spent, then they go to hell or the animal realm or the ghost realm.
Tetapi seorang siswa Sang Bhagavā, setelah berdiam di sana selama umur kehidupannya, setelah menghabiskan seluruh umur kehidupan para dewa itu, ia mencapai parinibbāna dalam kehidupan itu juga.
But a disciple of the Buddha stays there until the lifespan of those gods is spent, then they’re extinguished in that very life.
Ini, para bhikkhu, adalah perbedaan, ini adalah pembedaan, ini adalah perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan orang duniawi yang tidak terpelajar, yaitu dalam hal tujuan kelahiran dan tempat kelahiran.
This is the difference between a learned noble disciple and an unlearned ordinary person, that is, when there is a place of rebirth.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
AN 4.123 · Sutta tentang Perbedaan (1) | Tiga Keranjang