Nisinnassa cepi, bhikkhave, bhikkhuno uppajjati kāmavitakko vā byāpādavitakko vā vihiṁsāvitakko vā.
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu sedang duduk dan muncul pikiran indrawi, pikiran berniat jahat, atau pikiran mencelakakan,
sitting …
Sutta Berjalan
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita menyikapi pikiran-pikiran negatif yang muncul dalam keseharian, apa pun aktivitas kita. Mari kita simak bagaimana Buddha membedakan antara sikap yang melemahkan dan sikap yang menguatkan latihan batin.
Sutta ini membahas tentang bagaimana seorang bhikkhu seharusnya menangani pikiran-pikiran negatif yang muncul—baik itu pikiran indrawi, niat jahat, maupun pikiran mencelakakan—dalam empat posisi tubuh: berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring. Buddha menegaskan bahwa membiarkan pikiran-pikiran tersebut berarti disebut malas dan tidak bersemangat, sedangkan dengan tekun melenyapkannya, seseorang disebut bersemangat dan bertekad bulat. Sutta ditutup dengan syair yang menegaskan bahwa kemampuan mencapai pencerahan tertinggi tidak ditentukan oleh postur tubuh, melainkan oleh kemampuan menenangkan pikiran.
Nisinnassa cepi, bhikkhave, bhikkhuno uppajjati kāmavitakko vā byāpādavitakko vā vihiṁsāvitakko vā.
Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu sedang duduk dan muncul pikiran indrawi, pikiran berniat jahat, atau pikiran mencelakakan,
sitting …
Tañce bhikkhu adhivāseti, nappajahati na vinodeti na byantīkaroti na anabhāvaṁ gameti,
dan bhikkhu itu membiarkannya, tidak meninggalkannya, tidak melenyapkannya, tidak menghapuskannya, dan tidak mengakhirinya,
nisinnopi, bhikkhave, bhikkhu evaṁbhūto ‘anātāpī anottāpī satataṁ samitaṁ kusīto hīnavīriyo’ti vuccati.
maka bhikkhu yang demikian, para bhikkhu, meskipun sedang duduk, disebut ‘tidak bersemangat, tidak berhati-hati, selalu malas, dan bervitalitas rendah.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.