an4.11:10.1 Ia menempuh jalan yang salah,
an4.11:10.2 terlena dalam hal-hal yang memperdaya;
an4.11:10.3 Bhikkhu demikian tidak mampu
an4.11:10.4 mencapai pencerahan tertinggi.
Sutta Berjalan
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita menyikapi pikiran-pikiran negatif yang muncul dalam keseharian, apa pun aktivitas kita. Mari kita simak bagaimana Buddha membedakan antara sikap yang melemahkan dan sikap yang menguatkan latihan batin.
Sutta ini membahas tentang bagaimana seorang bhikkhu seharusnya menangani pikiran-pikiran negatif yang muncul—baik itu pikiran indrawi, niat jahat, maupun pikiran mencelakakan—dalam empat posisi tubuh: berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring. Buddha menegaskan bahwa membiarkan pikiran-pikiran tersebut berarti disebut malas dan tidak bersemangat, sedangkan dengan tekun melenyapkannya, seseorang disebut bersemangat dan bertekad bulat. Sutta ditutup dengan syair yang menegaskan bahwa kemampuan mencapai pencerahan tertinggi tidak ditentukan oleh postur tubuh, melainkan oleh kemampuan menenangkan pikiran.
an4.11:10.1 Ia menempuh jalan yang salah,
an4.11:10.2 terlena dalam hal-hal yang memperdaya;
an4.11:10.3 Bhikkhu demikian tidak mampu
an4.11:10.4 mencapai pencerahan tertinggi.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.