Tīṇimāni, bhikkhave, kusalamūlāni.
Ada tiga akar yang terampil ini, para bhikkhu.
There are these three skillful roots.
Akar-Akar Yang Tidak Bermanfaat
Sutta ini mengajak kita merenungkan akar dari tindakan kita sendiri. Perhatikan bagaimana kualitas batin seperti keserakahan, kebencian, dan delusi dapat menjadi sumber penderitaan, dan bagaimana lawan-lawannya membawa pada kebahagiaan sejati.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan tiga akar tidak bermanfaat—keserakahan, kebencian, dan delusi—yang menjadi sumber tindakan, ucapan, dan pikiran buruk, serta menyebabkan penderitaan di kehidupan ini dan kelahiran kembali yang buruk. Beliau kemudian menguraikan tiga akar bermanfaat yang berlawanan—ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidakdelusian—yang melahirkan kualitas-kualitas baik, kebahagiaan, dan kebebasan dari penderitaan di kehidupan ini juga. Sebuah perumpamaan tentang pohon yang tercekik tanaman menjalar digunakan untuk menggambarkan bagaimana akar-akar buruk dapat dicabut sepenuhnya.
Tīṇimāni, bhikkhave, kusalamūlāni.
Ada tiga akar yang terampil ini, para bhikkhu.
There are these three skillful roots.
Katamāni tīṇi?
Apakah tiga itu?
What three?
Alobho kusalamūlaṁ, adoso kusalamūlaṁ, amoho kusalamūlaṁ.
Ketidakserakahan adalah akar yang terampil, ketidakbencian adalah akar yang terampil, ketidakdelusian adalah akar yang terampil.
Contentment, love, and understanding.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.