Etāhi tīhi vijjāhi,
Dengan tiga pengetahuan ini,
Because of these three knowledges
Dengan Jānussoṇi
Dalam sutta ini, kita akan menyaksikan perbandingan dua pandangan dunia: tradisi Veda yang menekankan kelahiran dan hafalan, versus ajaran Buddha yang menekankan pengalaman langsung melalui meditasi. Perhatikan bagaimana Buddha mendefinisikan ulang istilah 'tevijja' dengan cara yang radikal namun tetap menghargai pertanyaan Jānussoṇi.
Brahmana Jānussoṇi mendatangi Buddha dan menyampaikan pandangan brahmana tentang 'penguasa tiga pengetahuan Veda' (tevijja), yang menekankan kelahiran, silsilah, dan penguasaan kitab suci. Buddha kemudian menjelaskan bahwa dalam disiplin Yang Mulia, seorang tevijja sejati adalah seorang bhikkhu yang melalui praktik meditasi mencapai tiga pengetahuan langsung: mengingat kehidupan lampau, melihat kematian dan kelahiran kembali makhluk, serta pengetahuan hancurnya kekotoran batin. Di akhir sutta, Jānussoṇi mengakui keunggulan ajaran Buddha dan menyatakan diri sebagai umat awam yang berlindung.
Etāhi tīhi vijjāhi,
Dengan tiga pengetahuan ini,
Because of these three knowledges
tevijjo hoti brāhmaṇo;
seorang brahmana menjadi penguasa tiga pengetahuan;
a brahmin is a master of the three knowledges.
Tamahaṁ vadāmi tevijjaṁ,
Itulah yang Kusebut penguasa tiga pengetahuan,
That’s who I call a three-knowledge master,
nāññaṁ lapitalāpananti.
bukan yang lain yang sekadar mengulang apa yang diajarkan.
and not the other <j>who repeats what they are told.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.