Evamevaṁ kho, bhikkhave, tayo puggalā santo saṁvijjamānā bhikkhūsu.
Demikian pula, para bhikkhu, tiga individu ini ada dan terdapat di antara para bhikkhu.
In the same way, these three individuals are found among the mendicants.
Sutta Harapan
Sutta ini mengajak kita merenungkan posisi kita sendiri: apakah kita tanpa harapan, masih berharap, atau telah mencapai apa yang kita harapkan? Melalui perumpamaan sederhana tentang penobatan raja, Buddha menunjukkan pentingnya memiliki dasar yang baik untuk berharap mencapai kebebasan.
Buddha membabarkan tiga jenis individu di dunia—tanpa harapan, penuh harapan, dan telah melampaui harapan—menggunakan perumpamaan tentang penobatan raja. Ia kemudian menerapkan ketiga kategori ini pada para bhikkhu, menggambarkan mereka yang tidak bermoral, yang bermoral, dan para Arahant yang telah mencapai kebebasan sempurna.
Evamevaṁ kho, bhikkhave, tayo puggalā santo saṁvijjamānā bhikkhūsu.
Demikian pula, para bhikkhu, tiga individu ini ada dan terdapat di antara para bhikkhu.
In the same way, these three individuals are found among the mendicants.
Katame tayo?
Apakah tiga itu?
What three?
Nirāso, āsaṁso, vigatāso.
Yang tanpa harapan, yang penuh harapan, dan yang telah melampaui harapan.
The hopeless, the hopeful, and the one who has done away with hope.
Katamo ca, bhikkhave, puggalo nirāso?
Dan apakah, para bhikkhu, seorang yang tanpa harapan?
And what, mendicants, is a hopeless individual?
Idha, bhikkhave, ekacco puggalo dussīlo hoti pāpadhammo asuci saṅkassarasamācāro paṭicchannakammanto assamaṇo samaṇapaṭiñño abrahmacārī brahmacāripaṭiñño antopūti avassuto kasambujāto.
Di sini, para bhikkhu, seseorang tidak bermoral, berkarakter buruk, tidak suci, berperilaku mencurigakan, menyembunyikan perbuatannya, bukan seorang petapa meskipun mengaku sebagai petapa, bukan seorang pelaksana kehidupan suci meskipun mengaku sebagai pelaksana kehidupan suci, busuk di dalam, penuh kebocoran, dan hina.
It’s when an individual is unethical, of bad qualities, filthy, with suspicious behavior, underhand, no true ascetic or spiritual practitioner—though claiming to be one—rotten inside, festering, and depraved.
So suṇāti:
Ia mendengar:
They hear this:
‘itthannāmo kira bhikkhu āsavānaṁ khayā anāsavaṁ cetovimuttiṁ paññāvimuttiṁ diṭṭheva dhamme sayaṁ abhiññā sacchikatvā upasampajja viharatī’ti.
‘Konon bhikkhu bernama demikian, dengan hancurnya kekotoran batin, telah merealisasikan kebebasan pikiran yang tanpa kekotoran dan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah mengetahuinya sendiri melalui pengetahuan langsung dalam kehidupan ini, ia berdiam di dalamnya.’
‘They say that the mendicant named so-and-so has realized the undefiled freedom of heart and freedom by wisdom. And they live having realized it with their own insight in this very life due to the ending of defilements.’
Tassa na evaṁ hoti:
Ia tidak berpikir:
It never occurs to them:
‘kudāssu nāma ahampi āsavānaṁ khayā anāsavaṁ cetovimuttiṁ paññāvimuttiṁ diṭṭheva dhamme sayaṁ abhiññā sacchikatvā upasampajja viharissāmī’ti.
‘Kapankah kiranya aku juga, dengan hancurnya kekotoran batin, akan merealisasikan kebebasan pikiran yang tanpa kekotoran dan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah mengetahuinya sendiri melalui pengetahuan langsung dalam kehidupan ini, akan berdiam di dalamnya.’
‘Oh, when will I too realize the undefiled freedom of heart and freedom by wisdom, and live having realized it with my own insight in this very life due to the ending of defilements.’
Ayaṁ vuccati, bhikkhave, puggalo nirāso.
Ini disebut, para bhikkhu, seorang yang tanpa harapan.
This is called a hopeless individual.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.