Katamañca, bhikkhave, manomoneyyaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kebijaksanaan pikiran?
And what is sagacity of mind?
Khotbah tentang Kebijaksanaan
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna kebijaksanaan secara utuh—bukan hanya dalam pikiran, tetapi juga dalam tindakan dan ucapan sehari-hari. Perhatikan bagaimana ketiga aspek ini saling melengkapi dan berpuncak pada kebebasan batin yang mendalam.
Dalam khotbah singkat ini, Sang Buddha membabarkan tiga jenis kebijaksanaan (moneyya): kebijaksanaan tubuh, ucapan, dan pikiran. Kebijaksanaan tubuh dan ucapan dijelaskan sebagai penghindaran dari perbuatan tidak bajik melalui tubuh dan ucapan, sementara kebijaksanaan pikiran adalah pencapaian tertinggi, yaitu kebebasan batin melalui hancurnya kekotoran batin. Sutta ditutup dengan syair yang merangkum kualitas seorang bijaksana yang telah melepaskan segalanya.
Katamañca, bhikkhave, manomoneyyaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kebijaksanaan pikiran?
And what is sagacity of mind?
Idha, bhikkhave, bhikkhu āsavānaṁ khayā anāsavaṁ cetovimuttiṁ paññāvimuttiṁ diṭṭheva dhamme sayaṁ abhiññā sacchikatvā upasampajja viharati.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu, dengan hancurnya kekotoran batin, merealisasikan kebebasan pikiran yang tanpa kekotoran dan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah mengetahuinya sendiri dengan pengetahuan langsung, ia berdiam di dalamnya dalam kehidupan ini juga.
It’s when a mendicant realizes the undefiled freedom of heart and freedom by wisdom. And they live having realized it with their own insight in this very life due to the ending of defilements.
Idaṁ vuccati, bhikkhave, manomoneyyaṁ.
Ini disebut, para bhikkhu, kebijaksanaan pikiran.
This is called ‘sagacity of mind’.
Imāni kho, bhikkhave, tīṇi moneyyānīti.
Inilah, para bhikkhu, tiga macam kebijaksanaan itu.”
These are the three kinds of sagacity.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.