Ekaṁ samayaṁ bhagavā nātike viharati giñjakāvasathe.
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Nātika, di rumah bata.
At one time the Buddha was staying at Ñātika in the brick house.
Khotbah tentang Saddha
Sutta ini menggunakan perumpamaan kuda untuk menggambarkan kualitas meditasi. Perhatikan baik-baik perbedaan antara 'bersandar' pada objek dan 'melepaskan' semua sandaran—di situlah inti ajaran ini berada.
Sang Buddha mengajarkan Yang Mulia Saddha tentang dua cara bermeditasi: seperti kuda liar yang terikat pada makanan dan rangsangan indrawi, atau seperti kuda berdarah murni yang tidak terikat pada apa pun. Meditasi yang benar adalah melepaskan semua sandaran—bahkan pada objek-objek luhur sekalipun—sehingga para dewa pun memberi hormat dari jauh.
Ekaṁ samayaṁ bhagavā nātike viharati giñjakāvasathe.
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Nātika, di rumah bata.
At one time the Buddha was staying at Ñātika in the brick house.
Atha kho āyasmā saddho yena bhagavā tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā bhagavantaṁ abhivādetvā ekamantaṁ nisīdi. Ekamantaṁ nisinnaṁ kho āyasmantaṁ saddhaṁ bhagavā etadavoca:
Kemudian Yang Mulia Saddha mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya:
Then Venerable Sandha went up to the Buddha, bowed, and sat down to one side. The Buddha said to him:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.