Samāhitassa, bhikkhave, na cetanāya karaṇīyaṁ:
Bagi yang pikirannya terkonsentrasi, para bhikkhu, tidak perlu ada keinginan:
When your mind is immersed in samādhi you need not make a wish:
Khotbah tentang Membuat Keinginan
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kualitas-kualitas batin yang baik tidak muncul secara kebetulan, melainkan melalui hukum sebab-akibat yang alami. Mari kita telusuri bersama bagaimana moralitas menjadi fondasi yang kokoh bagi perkembangan batin yang mendalam.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu bahwa seorang yang bermoral tidak perlu berharap atau membuat keinginan untuk mencapai kualitas-kualitas batin yang lebih tinggi. Semua kualitas tersebut muncul secara alami sebagai akibat dari moralitas, mengikuti hukum alam (dhammatā). Beliau merinci rantai sebab-akibat yang berkesinambungan: dari moralitas muncul ketiadaan penyesalan, kemudian kegembiraan, sukacita, ketenangan, kebahagiaan, konsentrasi, pengetahuan dan penglihatan sebagaimana adanya, kejemuan, kebebasan dari nafsu, hingga akhirnya pengetahuan dan penglihatan kebebasan. Semua kualitas ini saling mengalir dan memenuhi satu sama lain, membawa praktisi dari pantai sini menuju pantai seberang.
Samāhitassa, bhikkhave, na cetanāya karaṇīyaṁ:
Bagi yang pikirannya terkonsentrasi, para bhikkhu, tidak perlu ada keinginan:
When your mind is immersed in samādhi you need not make a wish:
‘yathābhūtaṁ jānāmi passāmī’ti.
‘Semoga aku mengetahui dan melihat sebagaimana adanya!’
‘May I truly know and see!’
Dhammatā esā, bhikkhave, yaṁ samāhito yathābhūtaṁ jānāti passati.
Ini adalah hukum alam, para bhikkhu, bahwa yang terkonsentrasi mengetahui dan melihat sebagaimana adanya.
It’s only natural to truly know and see when your mind is immersed in samādhi.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.