an11.11:7.1 Selanjutnya, Mahānāma, engkau harus mengingat kedermawananmu sendiri:
an11.11:7.2 ‘Sungguh suatu perolehan bagiku, sungguh suatu keberuntungan bagiku,
an11.11:7.3 bahwa di tengah orang-orang yang diliputi oleh noda kekikiran, aku berdiam di rumah dengan pikiran yang bebas dari noda kekikiran, dermawan, berhati terbuka, senang melepaskan, siap melayani permintaan, dan senang berbagi pemberian.’
an11.11:7.4 Ketika, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat kedermawanannya, pada saat itu pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu, tidak dikuasai oleh kebencian, tidak dikuasai oleh delusi;
an11.11:7.5 Pada saat itu, pikirannya menjadi lurus semata-mata karena merenungkan kedermawanan.
an11.11:7.6 Dan sesungguhnya, Mahānāma, seorang siswa mulia yang pikirannya lurus memperoleh makna yang mendalam, memperoleh pemahaman Dhamma, dan memperoleh kegembiraan yang selaras dengan Dhamma.
an11.11:7.7 Pada orang yang bergembira, muncullah sukacita; pada orang yang bersukacita, tubuhnya menjadi tenang; tubuh yang tenang merasakan kebahagiaan; pikiran orang yang bahagia menjadi terpusat.
an11.11:7.8 Ini disebut, Mahānāma, seorang siswa mulia yang berdiam dalam keseimbangan di tengah orang-orang yang tidak seimbang, dan berdiam tanpa gangguan di tengah orang-orang yang bermusuhan. Ia telah memasuki arus Dhamma dan mengembangkan pengingatan akan kedermawanan.
