an10.61:1.1 “Purimā, bhikkhave, koṭi na paññāyati avijjāya: ‘ito pubbe avijjā nāhosi, atha pacchā samabhavī’ti.
an10.61:1.2 Evañcetaṁ, bhikkhave, vuccati, atha ca pana paññāyati: ‘idappaccayā avijjā’ti.
Sutta Kebodohan
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana segala sesuatu di dalam batin tidak muncul secara kebetulan, melainkan karena serangkaian kondisi yang saling terkait. Mari kita telusuri bersama rantai sebab-akibat yang dipaparkan oleh Sang Buddha, baik yang menuntun pada kebodohan maupun yang menuntun pada kebebasan.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa kebodohan (avijjā) bukanlah fenomena tanpa awal, melainkan memiliki rantai kondisi yang jelas. Beliau menguraikan sepuluh faktor yang saling menopang, dimulai dari pergaulan dengan orang yang tidak baik hingga memuncak pada kebodohan. Sebaliknya, Beliau juga memaparkan sepuluh faktor yang menuntun pada pengetahuan dan kebebasan, yang berakar dari pergaulan dengan orang baik. Ajaran ini diperjelas dengan perumpamaan air hujan yang mengalir dari puncak gunung hingga memenuhi samudra.
an10.61:1.1 “Purimā, bhikkhave, koṭi na paññāyati avijjāya: ‘ito pubbe avijjā nāhosi, atha pacchā samabhavī’ti.
an10.61:1.2 Evañcetaṁ, bhikkhave, vuccati, atha ca pana paññāyati: ‘idappaccayā avijjā’ti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.