Taṁ kiṁ maññatha, bhikkhave,
Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu,
What do you think, mendicants?
Khotbah tentang Tubuh yang Lahir dari Perbuatan
Sutta ini mengajak kita merenungkan hubungan antara perbuatan dan akibatnya, serta bagaimana kualitas batin yang dikembangkan dapat mengubah cara kita mengalami kamma. Mari kita simak penjelasan Sang Buddha tentang bagaimana cinta kasih dan keseimbangan batin yang tak terbatas dapat membebaskan kita dari belenggu perbuatan lampau.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa perbuatan yang disengaja tidak akan hilang tanpa dialami akibatnya, baik di kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Beliau kemudian mengajarkan bahwa dengan mengembangkan empat pencapaian batin luhur—cinta kasih, belas kasih, kegembiraan, dan keseimbangan—yang tak terbatas, seorang siswa mulia dapat melampaui keterbatasan perbuatan lampau. Pengembangan ini, bagi yang belum mencapai kebebasan tertinggi, mengarah pada kondisi tidak kembali lagi (anāgāmitā).
Taṁ kiṁ maññatha, bhikkhave,
Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu,
What do you think, mendicants?
daharatagge ce so ayaṁ kumāro upekkhaṁ cetovimuttiṁ bhāveyya, api nu kho pāpakammaṁ kareyyā”ti?
jika anak ini sejak masa mudanya mengembangkan kebebasan batin melalui keseimbangan batin, apakah ia akan melakukan perbuatan jahat?”
Suppose a child had developed the heart’s release by equanimity from their childhood on. Would they still do any bad deed?”
“No hetaṁ, bhante”.
“Tidak, Bhante.”
“No, sir.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.