“Akarontaṁ kho pana pāpakammaṁ api nu kho dukkhaṁ phuseyyā”ti?
“Jika ia tidak melakukan perbuatan jahat, apakah penderitaan akan menimpanya?”
“Not doing any bad deed, would they still experience any suffering?”
Khotbah tentang Tubuh yang Lahir dari Perbuatan
Sutta ini mengajak kita merenungkan hubungan antara perbuatan dan akibatnya, serta bagaimana kualitas batin yang dikembangkan dapat mengubah cara kita mengalami kamma. Mari kita simak penjelasan Sang Buddha tentang bagaimana cinta kasih dan keseimbangan batin yang tak terbatas dapat membebaskan kita dari belenggu perbuatan lampau.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa perbuatan yang disengaja tidak akan hilang tanpa dialami akibatnya, baik di kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Beliau kemudian mengajarkan bahwa dengan mengembangkan empat pencapaian batin luhur—cinta kasih, belas kasih, kegembiraan, dan keseimbangan—yang tak terbatas, seorang siswa mulia dapat melampaui keterbatasan perbuatan lampau. Pengembangan ini, bagi yang belum mencapai kebebasan tertinggi, mengarah pada kondisi tidak kembali lagi (anāgāmitā).
“Akarontaṁ kho pana pāpakammaṁ api nu kho dukkhaṁ phuseyyā”ti?
“Jika ia tidak melakukan perbuatan jahat, apakah penderitaan akan menimpanya?”
“Not doing any bad deed, would they still experience any suffering?”
“No hetaṁ, bhante.
“Tidak, Bhante.
“No, sir.
Akarontañhi, bhante, pāpakammaṁ kuto dukkhaṁ phusissatī”ti.
Karena jika ia tidak melakukan perbuatan jahat, dari manakah penderitaan akan menimpanya?”
For if they don’t do any bad deed, from where would suffering afflict them?”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.