So evaṁ pajānāti:
Ia memahami:
They understand:
Khotbah tentang Tubuh yang Lahir dari Perbuatan
Sutta ini mengajak kita merenungkan hubungan antara perbuatan dan akibatnya, serta bagaimana kualitas batin yang dikembangkan dapat mengubah cara kita mengalami kamma. Mari kita simak penjelasan Sang Buddha tentang bagaimana cinta kasih dan keseimbangan batin yang tak terbatas dapat membebaskan kita dari belenggu perbuatan lampau.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa perbuatan yang disengaja tidak akan hilang tanpa dialami akibatnya, baik di kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Beliau kemudian mengajarkan bahwa dengan mengembangkan empat pencapaian batin luhur—cinta kasih, belas kasih, kegembiraan, dan keseimbangan—yang tak terbatas, seorang siswa mulia dapat melampaui keterbatasan perbuatan lampau. Pengembangan ini, bagi yang belum mencapai kebebasan tertinggi, mengarah pada kondisi tidak kembali lagi (anāgāmitā).
So evaṁ pajānāti:
Ia memahami:
They understand:
‘pubbe kho me idaṁ cittaṁ parittaṁ ahosi abhāvitaṁ, etarahi pana me idaṁ cittaṁ appamāṇaṁ subhāvitaṁ. Yaṁ kho pana kiñci pamāṇakataṁ kammaṁ, na taṁ tatrāvasissati na taṁ tatrāvatiṭṭhatī’ti.
‘Sebelumnya pikiranku ini terbatas dan tidak terlatih. Sekarang pikiranku ini tanpa batas dan terlatih dengan baik. Perbuatan apa pun yang terbatas yang telah kulakukan tidak tersisa atau menetap di sana.’
‘Formerly my mind was limited and undeveloped. Now it’s limitless and well developed. Whatever limited deeds I’ve done don’t remain or persist there.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.