‹
AN 10.217

Paṭhamasañcetanikasutta

Disengaja (1)

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 10.217

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana pilihan tindakan sehari-hari—baik melalui tubuh, ucapan, maupun pikiran—memiliki konsekuensi yang pasti. Mari kita simak dengan tenang, karena ajaran ini bukan sekadar daftar larangan, melainkan gambaran jernih tentang hukum sebab-akibat yang bekerja dalam kehidupan.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa perbuatan yang disengaja (sañcetanika kamma) tidak akan hilang tanpa dialami akibatnya, baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Beliau merinci sepuluh jenis tindakan tidak terampil—tiga melalui tubuh, empat melalui ucapan, dan tiga melalui pikiran—yang membawa penderitaan dan kelahiran kembali di alam rendah. Sebaliknya, sepuluh tindakan terampil yang berlawanan membawa kebahagiaan dan kelahiran kembali di alam surga, bagaikan dadu yang selalu jatuh dengan sisi yang benar.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an10.217:24.1

Kathañca, bhikkhave, catubbidhā vacīkammantasampatti kusalasañcetanikā sukhudrayā sukhavipākā hoti?

Dan apakah, para bhikkhu, empat jenis kesempurnaan tindakan ucapan yang disertai kehendak baik, membawa kebahagiaan dan berakibat bahagia?

And what are the four kinds of successful verbal action?

an10.217:24.2

Idha, bhikkhave, ekacco musāvādaṁ pahāya musāvādā paṭivirato hoti. Sabhaggato vā parisaggato vā ñātimajjhagato vā pūgamajjhagato vā rājakulamajjhagato vā abhinīto sakkhipuṭṭho ‘ehambho purisa, yaṁ jānāsi taṁ vadehī’ti, so ajānaṁ vā āha: ‘na jānāmī’ti, jānaṁ vā āha: ‘jānāmī’ti, apassaṁ vā āha: ‘na passāmī’ti, passaṁ vā āha: ‘passāmī’ti, iti attahetu vā parahetu vā āmisakiñcikkhahetu vā na sampajānamusā bhāsitā hoti.

Di sini, para bhikkhu, seseorang yang telah meninggalkan ucapan dusta, ia menghindari ucapan dusta. Ketika dipanggil ke hadapan majelis, perkumpulan, di tengah kerabat, di tengah kelompok, atau di tengah istana raja, dan ditanya sebagai saksi: 'Hai tuan, apa yang engkau ketahui, katakanlah,' maka ia yang tidak mengetahui berkata: 'Aku tidak tahu,' yang mengetahui berkata: 'Aku tahu,' yang tidak melihat berkata: 'Aku tidak melihat,' dan yang melihat berkata: 'Aku melihat.' Demikianlah, ia tidak mengucapkan kebohongan yang disengaja demi dirinya sendiri, demi orang lain, atau demi keuntungan duniawi yang remeh.

It’s when someone gives up lying. They’re summoned to a council, an assembly, a family meeting, a guild, or to the royal court, and asked to bear witness: ‘Please, my friend, say what you know.’ Not knowing, they say ‘I don’t know.’ Knowing, they say ‘I know.’ Not seeing, they say ‘I don’t see.’ And seeing, they say ‘I see.’ So they don’t deliberately lie for the sake of themselves or another, or for some trivial worldly reason.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.