an10.216:1.1 “Saṁsappanīyapariyāyaṁ vo, bhikkhave, dhammapariyāyaṁ desessāmi.
an10.216:1.2 Taṁ suṇātha, sādhukaṁ manasi karotha, bhāsissāmī”ti.
an10.216:1.3 “Evaṁ, bhante”ti kho te bhikkhū bhagavato paccassosuṁ.
an10.216:1.4 Bhagavā etadavoca:
Khutbah tentang Makhluk Melata
Sutta ini menggunakan metafora yang kuat dan gamblang tentang 'makhluk melata' untuk menjelaskan hukum sebab-akibat. Saat membacanya, perhatikan bagaimana Sang Buddha merinci sepuluh jenis perbuatan buruk dan baik, serta bagaimana masing-masing mengarah pada konsekuensi kelahiran yang berbeda.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang 'makhluk melata' (saṁsappanīya), sebuah metafora untuk orang-orang yang melakukan perbuatan buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Mereka yang 'melata' dengan perbuatan bengkok akan terlahir di alam yang bengkok, seperti neraka atau alam binatang melata. Sebaliknya, mereka yang 'tidak melata' dengan perbuatan lurus akan terlahir di alam yang lurus dan bahagia, seperti surga atau keluarga kaya-raya. Khotbah ini menegaskan hukum kamma: setiap makhluk adalah pewaris perbuatannya sendiri.
an10.216:1.1 “Saṁsappanīyapariyāyaṁ vo, bhikkhave, dhammapariyāyaṁ desessāmi.
an10.216:1.2 Taṁ suṇātha, sādhukaṁ manasi karotha, bhāsissāmī”ti.
an10.216:1.3 “Evaṁ, bhante”ti kho te bhikkhū bhagavato paccassosuṁ.
an10.216:1.4 Bhagavā etadavoca:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.